Bantuan Terlambat, Korban Abrasi di Mamuju Mengemis

Metrotvnews.com, Mamuju: Puluhan korban abrasi pantai di Desa Tampalang, Kecamatan Tappalang, Mamuju, Sulawesi Barat, pasrah. Sebagian warga mengungsi ke rumah tetangga yang tidak terkena abrasi. Sebagian lagi berlindung di gubuk-gubuk kecil. Barang-barang mereka yang bisa diselamatkan berhamburan di pinggir jalan. Warga tidak bisa berbuat banyak lantaran bantuan terlambat datang.

Untuk menyambung hidup, sejumlah anak berinisiatif meminta-minta bantuan di pinggir jalan kepada para pengguna jalan. Menurut salah satu korban, Dahlia, meminta-minta terpaksa dilakukan karena warga tidak mendapatkan penghasilan apapun.

Hingga kini para korban baru mendapatkan bantuan berupa beras 25 kilogram dan mie instan 20 bungkus per kepala keluarga. Padahal, bantuan yang paling mendesak dan dibutuhkan warga adalah biaya membangun kembali rumah yang hancur diterjang ombak besar. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Mamuju H Rusdy Sah, bantuan lambat turun karena masalah administrasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, lebih 40 rumah di Kecamatan Tappalang, Mamuju, rusak parah, bahkan ada yang hancur, setelah diterjang ombak besar disertai angin kencang. Para korban berharap agar pemerintah setempat segera memberikan bantuan agar mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal. (Farhanuddin/DOR)

By Abrasi the movie

Dua kecamatan hijaukan pesisir atasi abrasi

Kaur (ANTARA News) – Dua kecamatan di Kabupaten Kaur yakni Nasal dan Maje meningkatkan program penghijauan wilayah pesisir untuk mengatasi ancaman abrasi atau penyempitan daratan di kawasan itu.
“Program nasional pemberdayaan masyarakat lingkungan mandiri perdesaan kami arahkan untuk penghijauan pesisir, karena ancaman abrasi dan angin laut cukup mengganggu wilayah permukiman di dua kecamatan ini,” kata Koordinator Pendamping Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP) Kabupaten Kaur Emrodili di Kaur, Selasa.
Sasaran program penghijauan atau konservasi lingkungan di Kecamata Maje dilaksanakan di Desa Sumber Harapan dengan alokasi dana Rp57 juta, Sementara di Kecamatan Nasal dilaksanakan di tiga desa yakni Desa Tanjung Betua, Desa Pasar Baru, dan Desa Batu Lungun, dengan alokasi dana untuk masing-masing desa yakni Rp77 juta, Rp88 juta dan Rp78 juta, “Warga Desa Sumber Harapan Kecamatan Maje menambah alokasi dana swadaya masyarakat sebesar Rp1,5 juta untuk program penghijauan ini,” tambahnya. Emrodili mengatakan permintaan program penghijauan pesisir tersebut muncul dari kalangan masyarakat desa yang khawatir ancaman abrasi yang mengancam pemukiman mereka, warga juga mengeluhkan terpaan angin laut yang semakin kencang ke arah pemukiman tanpa adanya benteng penahan yakni hutan pesisir.
“Masyarakat juga trauma dengan tsunami yang rawan melanda wilayah pesisir sehingga hutan pantai ini diharapkan menjadi benteng pertahanan dari tsunami,” katanya.
Sekretaris Desa Pasar Baru Fakiusman mengatakan penghijauan pesisir merupakan permintaan warga desa itu sebab ancaman abrasi dan angin laut mulai mengganggu pemukiman yang hanya berjarak 10 meter dari pantai.
“Abrasi terus memakan daratan sehingga menumbangkan pohon yang semakin sedikit di pinggir pantai sehingga angin kencang juga langsung menerpa rumah-rumah penduduk,” katanya, kondisi ini kata dia cukup mengganggu sebab pemukiman warga sangat dekat dengan pantai, bahkan hanya berjarak 5 hingga 10 meter, penanaman vegetasi pantai yakni jenis pohon cemara sudah ditanam sebanyak 600 batang di lokasi sepanjang 1,5 kilometer.
Bibit pohon cemara didatangkan dari Bengkulu sebab vegetasi pantai tersebut sebagian besar adalah pohon ketapang.
Fakiusman mengatakan, masyarakat Desa Pasar Baru mengharapkan program tersebut masih berlanjut hingga hutan pantai di kawasan itu benar-benar berfungsi menahan laju abrasi yang mengancam pemukiman warga. (RNI/M008)


By Abrasi the movie

Panji Trihatmojo “Banyak pantai yang harus ditolong karena abrasi””

Panji Trihatmojo, miris melihat pantai Indonesia banyak yang telah rusak. Padahal, ia menilai pantai-pantai di Indonesia banyak yang cantik, bahkan bisa melebihi pantai yang ada di dunia jika bisa dilestarikan dengan baik. “Saya melihat pantai Indonesia adalah yang tercantik di dunia,” tutur Panji di kantor Kabartop.Com, kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Sabtu (31/12/2011) malam. berbekal teknologi yang dibawanya dari Amerika, sebagai putra bangsa, cucu mantan presiden (alm) Soeharto itu, kini sedang sibuk melestarikan terumbu karang buatan sebagai pembenahan laut di Pecatu, Bali.

Panji juga mengklaim jika terumbu karang buatannya itu berbeda dengan terumbu karang buatan yang sudah ada sebelumnya. “Terumbu karangnya dibuat di New Zealand, seperti saringan filter di akuarium, tapi tidak mengeluarkan bahan kimia. Dalamnya sekitar 5-7 meter. Terumbu karang yang akan ditanam di Pecatu sekitar 100 meter lebih di sekitar 300 meteran panjang pantai,” ujarnya seraya menambahkan jika tidak aral melintang, usahanya itu akan berbuah hasil di akhir tahun 2012 nanti. “Kalau ombaknya tenang, mudah-mudahan selesai di akhir 2012,” tukasnya.

Usahanya itu bermula dari rasa prihatinnya akan banyaknya terumbu karang yang rusak dan rasa kepeduliannya menjaga ekosistem laut. Terlebih, mantan kekasih Laudya Chintya Bella itu amat mencintai suasana pantai. “Saya mencintai laut, saya mencintai lingkungan dan pantai. Pantai di Indonesia itu paling indah, dan nggak ada lawannya, dan di selatan Jawa itu masih banyak sekali pantai yang harus ditolong karena abrasi,” akunya. (Deva)

2012, Abrasi Pantai Ancam Daratan

2012

Indonesia sebagai negara kepulauan tentunya tidak lepas dengan garis pantai, Indonesia sendiri memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia, garis pantai Indonesia sendiri sepanjang 95,181 kilometer.

Namun sebanyak 20 persen dari garis pantai di sepnjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, tentunya kerusakan ini disebabakan oleh beberapa faktor, antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai.

“Sangat disayangkan memang, rusakanya garis pantai kita, namun tentunya itu tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor baik faktor alam maupun faktor manusia, saya melihat abrasi pantai itu umumnya secara alami, namun ulah manusia juga menjadi faktor utama,” kata Pengamat Keluatan, Profesor Sahala Hutabarat kepada Maritim Magazine.

Ulah manusia yang dimaksud Sahala yaitu, banyaknya manusia yang tidak peduli sama trumbu karang, dimana banyak masyarakat yang mengambil begitu saja karang-karang yang ada dipantai. “Karang itu khan bisa menghambat ombak, dan mengurangi kekuatan gelombang yang mencapai pantai, jika karang dipantai diambil tentunya, hambatan ombak akan berkurang dan abrasipun tak terhindarkan,” ujarnya.

Gelombang ombak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu gelombang menyebar dan gelombang memusat. Sahala menjabarakan, gelombang yang paling berbahaya tentunya gelombang memusat yang langsung mengarah ke pantai, jika karang pantai hilang, masih kata Sahala maka gelombang itu tentunya akan menggerus pantai, sehingga abrasi pantai tak terhindarkan.

“Hilangnya vegetasi mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai. Sebagaimana diketahui, mangrove yang ditanam di pinggiran pantai, akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Sayangnya hutan bakau ini banyak yang telah dirusak oleh manusia,”

Industri-industri ditepi pantai yang juga menjadi faktor abrasi pantai, seperti misalnya pembangunan pelabuhan. “Pencegahannya supaya tidak terjadi abrasi, bisa dibuat penahan-penahan gelombang, saya kasih contoh di Ancol, adanya batu-batu, itu bisa mencegah abrasi. Karena gelombang yang harusnya terpusat, karena adanya batu-batu itu maka gelombang bisa terpencar,” tegas Sahala.

Faktor lain disebutkan oleh Profesor Ilmu Kelautan UNDIP  ini yaitu perubahan iklim menjadi penyebab abrasi pantai. Pasalnya dengan kondisi saat ini, tidak bisa terhindarkan. “Mau tidak mau perubahan iklim juga menjadi penyebab terjadinya abrasi pantai, jika dalam kurun waktu 10 tahun perbuahan iklim tidak bisa diminimalisir, dan kutub utara mencair maka pantai tersebut bisa menjadi terancam dan berbahaya,”

Ada beberapa solusi untuk mengatasi (paling tidak menghambat) masalah abrasi pantai ini, yang dijabarkan oleh Sahala Hutabarat, dimana Pemerintah harus segera secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak, revetment, dan pembentukan tembok laut (groin), dan Hutan mangrove di sekitar pantai yang terkena dampak abrasi tersebut.

“Penanganan abrasi pantai memang sulit. Solusi di atas memiliki resiko dan kekurangan masing-masing. Pemasangan alat pemecah ombak tentunya memerlukan biaya yang sangat besar. Sedangkan penanaman vegetasi mangrove pun tidak dapat dilakukan disemua jenis pantai karena mangrove hanya tumbuh di daerah yang berlumpur,” ujarnya.

Tetapi meskipun sangat sulit, usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. “Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas daratan di Indonesia banyak yang akan berkurang. Bahkan beberapa pulau terancam hilang,” cetusnya.

Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh gerusan air laut baik yang disebabkan oleh meningkatnya permukaan air laut ataupun oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.

Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam. Pantai yang indah dan menjadi tujuan wisata menjadi rusak. Pemukiman warga dan tambak tergerus hingga menjadi laut. Tidak sedikit warga di pesisir pantai yang telah direlokasi gara-gara abrasi pantai ini. Abrasi pantai juga berpotensi menenggelamkan beberapa pulau kecil di perairan Indonesia.

Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Dr Moch Amron mengatakan bahwa sebanyak 20 persen dari garis pantai di sepanjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan akibat berbagai permasalahan antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai. “20 persen garis pantai di Indonesia mengalami kerusakan,” kata Amron, di Kementerian PU, Jakarta.

Amron mencontohkan, panjang garis pantai di Pulau Bali telah mengalami abrasi sekitar 91 kilometer atau 20,8 persen dari garis pantai pulau tersebut. Hal itu sangat disayangkan karena Indonesia memiliki garis pantai sekitar 95 kilometer. “Kerusakan garis pantai itu disebabkan oleh perubahan lingkungan dan abrasi pantai yang juga mengancam keberadaan lahan produktif dan pariwisata,” terangnya.

Sementara itu, Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) melalaui Direktur Pesisir dan Lautan Ditjen KP3K , Dr, Ir Subandono Diposaptono mengatakan penanganan Abrasi tersebut memang wilayah dirinya, ada dua faktor yang dibuat oleh KKP, yaitu pembangunan Struktur dan Nonstruktur, namun KKP hanya berada pada wilayah Nonstruktur, yaitu penanaman pohon mangrove dan trumbu buatan. “Ini masuk dalam mitigasi bencana dalam PP nomer 64 tahun 2010, disebutkan abrasi pantai. Dan kita juga sudah menangani di daerah Demak,” kata Subandono.

Dikaui oleh Subandono, ada sekitar 20 Provinsi dan ratusan lokasi yang sudah terkena abrasi, dan penanganannya pun terus dilakukan, namun KKP tidak bisa bekerja sendirian, untuk penanganan abrasi dengan cara pembuatan tembok perlu kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum. “Kami tidak bisa bekerja sendirian, tentunya penanganan abrasi dengan membuat tembok-tembok perlu bekerjasama dengan PU, kami hanya sebatas penanganan lunak,” ujarnya.

Penganan abrasi sendiri tentunya tidak sembarangan, seperti pembuatan tembok, perlu kajian secara komperhensif, karena masih kata Subandono jika pembangunan dilakukan disatu titik tanpa ada penagnagn yang serius maka bisa merubah tempat lain. “Jika tempat A ditangani tanpa melakukan kajian, maka bisa berakibat patal ke tempat lain. Harus dilihat dari arah mana gelombangnya, dan jika dibuat tembok apakah tidak akan merusak tempat lain, tentunya khan tidak boleh sembarangan,” pungkasnya.

By Abrasi the movie

Mencegah Terjadinya Abrasi

Untuk mencegah terjadinya abrasi pantai perlu dilakukan penanaman mangrove dan pohon-pohon pada hutan pantai serta memelihara pohon-pohon tersebut dari gangguan manusia.

Hutan Mangrove Mencegah Abrasi Pantai

Hutan Mangrove

Manusia mengambil kayu dari hutan mangrove dan hutan pantai untuk kehidupan sehari-hari, apabila pengambilan kayu  dilakukan secara terus-menerus maka pohon-pohon di pesisir pantai akan berkurang. Kerapatan pohon yang rendah pada pesisir pantai memperbesar peluang terjadinya abrasi.

abrasi pantai

By Abrasi the movie

DEFINISI ABRASI | PENGERTIAN ABRASI

DEFINISI ABRASI | PENGERTIAN ABRASI

—————————————————————————————————————————

Definisi Abrasi atau Pengertian Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh kekuatan gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Ada yang mengatakan Abrasi sebagai erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipengaruhi oleh gejala alami dan tindakan manusia.
Tindakan manusia yang mendorong terjadinya abrasi adalah pengambilan batu dan pasir di pesisir pantai sebagai bahan bangunan. Selain itu penebangan pohon – pohon pada hutan pantai atau hutan mangrove memacu terjadinya abrasi pantai lebih cepat.

Hutan Mangrove di Meranti Hancur

Hutan Mangrove di Meranti Hancur

—————————————————————————————————————————

*Karena Arang, Hutan Bakau Ditebang*
*Abrasi Mencapai 5 Km*

RIAU- Hampir sebagian besar hutan mangrove (bakau) di Riau mengalami kerusakan sangat parah. Kondisi inilah yang mengakibatkan sejumlah daerah di provinsi Riau mengalami abrasi. Kondisi paling parah terjadi di Kepulauan Meranti, sekitar 60 persen hutan mangrove di kawasan ini hancur akibat pembabatan yang dilakukan tanpa memikirkan dampak lingkungan. Bentang alam kabupaten Kepulauan Meranti yang sebagian besar terdiri dari daratan rendah, menjadi sangat rawan. Pada umumnya struktur tanah di Kepulauan Meranti berupa tanah alluvial dan grey humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah dan berhutan bakau (mangrove). Lahan semacam ini sebenarnya subur untuk pengembangan di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.Celakanya, sebagian besar kawasan hutan mangrove di Kabupatan Kepulauan Meranti terancam punah. Karena arang, semua hutan bakau di kawasan ini ditebang. Abrasi mencapai sepanjang 5 kilometer. Ini terjadi di Pulau Rangsang. Di Pulau ini, sekurang-kurangnya enam desa mengalami abrasi cukup parah, yakni Desa Bantar, Tanjung Motong, Tanjung Kedabu, Tanjung Samak, Tanjung Balak Bugur, dan Desa Sungai Guyung Kiri.

Masyarakat setempat mengaku, kondisi enam desa itu cukup memprihatikan, terutama dikawasan pantai yang nyaris amblas digerus abrasi. Abrasi tersebut menerjang bibir pantai hingga 12 kilometer dengan laju 10 sampai 20 meter setiap tahunnya. “Lebih dari lima kilometer daratan hilang akibat abrasi. Jika dilihat, batas kebun dan rumah yang dulu ada, kini hanya tampak terbenam di bawah air,” tutur Herman (65) salah seorang warga Tanjung Kedabu.

Menurut Herman, kondisi di Pulau Rangsang semakin parah ketika hutan di daratan juga punah oleh ulah PT Sumatra RiangLestari (SRL), yang membabat habis hutan gambut.

Kondisi hutan di Pulau Rangsang sekarang ini, botak di darat, gundul di pantai. Tingginya tingkat abrasi di sepanjang pesisir timur pulau terluar Sumatra yang menghadap langsung ke Selat Malaka, menurutnya mengancambatas kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan negara jiran Malaysia dan Singapura.

Sementara dari temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, tercatat tingkat abrasi bibir pantai mencapai 5 kilometer (km) daratan hilang. “Abrasi yang terjadi sudah sangat parah. Hampir seluruh pulau terluar tergerus ombak Selat Malaka yang kini semakin kuat dan tidak menentu,” kata Direktur Eksekutif Walhi Riau Hariansyah Usman, beberapa waktu lalu.

Walhi Riau juga mencatat, ratusan hektare yang dulunya permukiman penduduk dan kebun sagu warga kini telah hilang berganti menjadi lautan. Untuk mengantisipasi bencana yang lebih parah, warga sekitar berusaha bertahan dengan menanam tanaman penahan ombak api-api. Tanaman itu diharapkan dapat menahan laju abrasi. Selain masalah abrasi, tambah Kaka, persoalan yang turut memberatkan penduduk

di pulau terluar Indonesia adalah diberikannya izin perkebunan bagi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Di pulau Rangsang, masyarakat saat ini terjepit. Di satu sisi, warga sedang diancam oleh abrasi yangmenghilangkan lima km daratan. Di sisi lain, permukiman yang semakin mundur itu hanya tinggal berjarak sekitar 500 meter saja dari kebun HTI PT Sumatra Riang Lestari (SRL).

Hancurnya hutan mangrove di Kebupaten Kepulauan Meranti memang tak terlepas dari munculnya sejumlah pabrik arang di kawasan itu. Secara historis hutan mangrove di Kepulauan Meranti telah lama dimanfaatkan penduduk desa pantai untuk kayu bakar, perkakas rumah, tiang dan lantai pelataran, jemuran pukat, jemuran ikan, udang dan kegunaan arang kayu bakau yang diminati untuk diekspor.

Pembabatan pun dilakukan secara membabi buta. Tak sedikit pula yang melakukan pembabatan secara ilegal. Data yang diperoleh Meranti Pos, jumlah pabrik arang di kawasan Meranti juga menjadi pemicu rusaknya hutan mangrove. Di Kebupetan Meranti sekurang-kurangnya terdapat 47 pabrik arang, yang tersebar 22 perusahaan berlokasi di Kecamatan Tebing Tinggi dengan kapasitas produksi 2.710/ton, 14 perusahaan berlokasi di Kecamatan Rangsang dengan kapasitas produksi 1.540/ton dan 11 perusahaan berlokasi di Kecamatan Merbau dengan kapasitas produksi 1.300/ton.

Belum lagi jumlah pembabat hutan magrove yang illegal, jumlahnya sudah tak terhitung lagi. Padahal, pembabatan hutan mangrove dapat dikenai sanksi hukum. Karena dinilai telah melanggar ketentuan Undang-Undang (UU) Nomor 41/1999 tentang Kehuanan, UU 31/2004 tentang Perikanan, UU 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
Sementara dari Jakarta dilaporkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menegaskan, ekosistem hutan mangrove di Indonesia secara umum saat ini dalam kondisi kritis dan rusak berat. “70 persen hutan mangrove di Indonesia kondisinya kritis dan rusak berat,” kata menteri.
Menurut Fadel Muhammad, faktor penyebab rusaknya hutan mangrove karena pemanfaatan yang tidak terkontrol, karena ketergantungan masyarakat yang menempati wilayah pesisir sangat tinggi. Seperti untuk berbagai kepentingan diantaranya kepentingan perkebunan, tambak, pemukiman, kawasan industri, tanpa mempertimbangkan kelestarian dan fungsinya terhadap lingkungan sekitar.

Para pengamat lingkungan juga mengingatkan, akibat rusaknya hutan mangrove, dapat mengakibatkan instrusi air laut. Yakni masuknya atau merembesnya air laut kearah daratan sampai mengakibatkan air tawar sumur/sungai menurun mutunya, bahkan menjadi payau atau asin. Dampak instrusi air laut ini sangat penting, karena air tawar yang tercemar intrusi air laut akan menyebabkan keracunan bila diminum dan dapat merusak akar tanaman. Instrusi air laut telah terjadi dihampir sebagian besar wilayah pantai Bengkulu. Dibeberapa tempat bahkan mencapai lebih dari 1 km.

Kerusakan hutan mangrove juga menyebabkan, turunnya kemampuan ekosistem mendegradasi sampah organic, minyak bumi. Kemudian penurunan keanekaragamanhayati di wilayah pesisir, peningkatan abrasi pantai, turunnya sumber makanan, tempat pemijah & bertelur biota laut. Akibatnya produksi tangkapan ikan menurun. Turunnya kemampuan ekosistem dalam menahan tiupan angin, gelombang air laut.

Lihat jumnlah hutan mangrove di Indonesia yang teruis mengalami kerusakan.
No. Wilayah Luas (ha)

1. Aceh 50.000
2. Sumatera Utara 60.000
3. Riau 95.000
4. Sumatera Selatan 195.000
5. Sulawesi Selatan 24.000
6. Sulawesi Tenggara 29.000
7. Kalimantan Timur 150.000
8. Kalimantan Selatan 15.000
9. Kalimantan Tengah 10.000
10. Kalimanta Barat 40.000
11. Jawa Barat 20.400
12. Jawa Tengah 14.041
13. Jawa Timur 6.000
14. Nusa Tenggara 3.678
15. Maluku 100.000
16. Irian Jaya 2.934.000

Total 3.806.119

 

 

Salam Alam untuk Indonesia – Mahadiproduction

Sumber : kabarindonesia.com

By Abrasi the movie

Hutan Bakau Dunia Merosot Dalam Jumlah Mengerikan

Hadiah berharga dari Tuhan itu menjadi tempat hidup banyak hewan laut dan jadi pelindung buat manusia dari terjangan bencana yang berkaitan dengan laut serta iklim, tapi ulah manusia membuatnya mengalami kerusakan. Hutan bakau di dunia mengalami kerusakan sampai empat kali lebih cepat dibandingkan dengan hutan lain, sehingga menimbulkan kerugian jutaan dolar akibat hilangnya areal seperti habitat ikan dan perlindungan dari badai serta tsunami, demikian laporan yang dikeluarkan Rabu (14/7).

Studi tersebut, yang diselenggarakan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB (UNEP) dan The Nature Conservancy menyatakan seperlima hutan bakau telah hilang sejak 1980 dan hutan yang berada di pinggir laut itu terus mengalami kerusakan sebanyak 0,7 persen per tahun akibat bermacam kegiatan seperti pengrusakan pantai dan peternakan udang.

Laporan dengan judul “World Mangrove Atlas” tersebut menyatakan hutan bakau memberi layanan ekonomi yang sangat besar. Hutan itu berfungsi sebagai tempat pembibitan ikan laut, penyimpanan karbon dan menyediakan pertahanan kokoh terhadap banjir serta topan pada saat permukaan air laut mengalami pasang naik. Pohon dan semak, yang tumbuh di habitat pantai yang berair asin, juga menyediakan kayu yang sangat bagus dan tahan busuk. “Mengingat nilainya, tak boleh lagi ada pembenaran bagi kerusakan lebih luas hutan bakau,” begitu pernyataan Emmanuel Ze Meka, pemimpin International Tropical Timber Organisation, yang membantu mendanai studi tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

Laporan studi itu mengutip bukti bahwa hutan bakau mengurangi dampak tsunami Samudra Hindia 2004 di beberapa tempat. Laporan tersebut mendesak semua negara, terutama yang memiliki hutan bakau terbesar seperti Brasil, Indonesia, dan Australia, agar berbuat lebih banyak guna menghentikan kemerosotan pada sebanyak 150.000 kilometer persegi hutan bakau di dunia.

“Pelaku terbesar hilangnya hutan bakau adalah konversi langsung ke akuakultur, pertanian dan pemanfaatan tanah buat warga kota. Zona pantai seringkali menjadi tempat hunian padat dan tekanan bagi pemanfaatan lahan. Di mana pun hutan bakau masih ada, semua hutan itu seringkali telah mengalami kemerosotan akibat pengolahan yang berlebihan,” demikian temuan laporan tersebut. Laporan itu menyebut Malaysia sebagai negara yang memanfaatkan kepemilikan negara atas hutan bakau agar negara dapat lebih baik mengelola areal tersebut dan mencegah kemerosotan lebih jauh.

Seorang pakar mangrove dari Institut Pertanian Bogor Prof Dr Cecep Kusmana, mengatakan sebagian besar hutan bakau di seluruh wilayah Indonesia mengalami kerusakan parah. Cecep Kusmana mengatakan kerusakan tersebut nyaris terjadi secara merata di semua daerah yang memiliki hutan bakau.Ia merasa prihatin, karena dari tahun ke tahun luas hutan bakau terus menyusut drastis. Pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat, katanya, perlu bahu membahu menyelamatkan hutan bakau di negeri ini.

Hutan bakau yang dimiliki Indonesia merupakan yang terluas di dunia. Total areal hutan bakau di Indonesia diperkirakan mencapai 4,5 juta hektare.

Sumber : Antara