2012, Abrasi Pantai Ancam Daratan

2012

Indonesia sebagai negara kepulauan tentunya tidak lepas dengan garis pantai, Indonesia sendiri memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia, garis pantai Indonesia sendiri sepanjang 95,181 kilometer.

Namun sebanyak 20 persen dari garis pantai di sepnjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, tentunya kerusakan ini disebabakan oleh beberapa faktor, antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai.

“Sangat disayangkan memang, rusakanya garis pantai kita, namun tentunya itu tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor baik faktor alam maupun faktor manusia, saya melihat abrasi pantai itu umumnya secara alami, namun ulah manusia juga menjadi faktor utama,” kata Pengamat Keluatan, Profesor Sahala Hutabarat kepada Maritim Magazine.

Ulah manusia yang dimaksud Sahala yaitu, banyaknya manusia yang tidak peduli sama trumbu karang, dimana banyak masyarakat yang mengambil begitu saja karang-karang yang ada dipantai. “Karang itu khan bisa menghambat ombak, dan mengurangi kekuatan gelombang yang mencapai pantai, jika karang dipantai diambil tentunya, hambatan ombak akan berkurang dan abrasipun tak terhindarkan,” ujarnya.

Gelombang ombak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu gelombang menyebar dan gelombang memusat. Sahala menjabarakan, gelombang yang paling berbahaya tentunya gelombang memusat yang langsung mengarah ke pantai, jika karang pantai hilang, masih kata Sahala maka gelombang itu tentunya akan menggerus pantai, sehingga abrasi pantai tak terhindarkan.

“Hilangnya vegetasi mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai. Sebagaimana diketahui, mangrove yang ditanam di pinggiran pantai, akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Sayangnya hutan bakau ini banyak yang telah dirusak oleh manusia,”

Industri-industri ditepi pantai yang juga menjadi faktor abrasi pantai, seperti misalnya pembangunan pelabuhan. “Pencegahannya supaya tidak terjadi abrasi, bisa dibuat penahan-penahan gelombang, saya kasih contoh di Ancol, adanya batu-batu, itu bisa mencegah abrasi. Karena gelombang yang harusnya terpusat, karena adanya batu-batu itu maka gelombang bisa terpencar,” tegas Sahala.

Faktor lain disebutkan oleh Profesor Ilmu Kelautan UNDIP  ini yaitu perubahan iklim menjadi penyebab abrasi pantai. Pasalnya dengan kondisi saat ini, tidak bisa terhindarkan. “Mau tidak mau perubahan iklim juga menjadi penyebab terjadinya abrasi pantai, jika dalam kurun waktu 10 tahun perbuahan iklim tidak bisa diminimalisir, dan kutub utara mencair maka pantai tersebut bisa menjadi terancam dan berbahaya,”

Ada beberapa solusi untuk mengatasi (paling tidak menghambat) masalah abrasi pantai ini, yang dijabarkan oleh Sahala Hutabarat, dimana Pemerintah harus segera secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak, revetment, dan pembentukan tembok laut (groin), dan Hutan mangrove di sekitar pantai yang terkena dampak abrasi tersebut.

“Penanganan abrasi pantai memang sulit. Solusi di atas memiliki resiko dan kekurangan masing-masing. Pemasangan alat pemecah ombak tentunya memerlukan biaya yang sangat besar. Sedangkan penanaman vegetasi mangrove pun tidak dapat dilakukan disemua jenis pantai karena mangrove hanya tumbuh di daerah yang berlumpur,” ujarnya.

Tetapi meskipun sangat sulit, usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. “Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas daratan di Indonesia banyak yang akan berkurang. Bahkan beberapa pulau terancam hilang,” cetusnya.

Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh gerusan air laut baik yang disebabkan oleh meningkatnya permukaan air laut ataupun oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.

Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam. Pantai yang indah dan menjadi tujuan wisata menjadi rusak. Pemukiman warga dan tambak tergerus hingga menjadi laut. Tidak sedikit warga di pesisir pantai yang telah direlokasi gara-gara abrasi pantai ini. Abrasi pantai juga berpotensi menenggelamkan beberapa pulau kecil di perairan Indonesia.

Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Dr Moch Amron mengatakan bahwa sebanyak 20 persen dari garis pantai di sepanjang wilayah Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan akibat berbagai permasalahan antara lain perubahan lingkungan dan abrasi pantai. “20 persen garis pantai di Indonesia mengalami kerusakan,” kata Amron, di Kementerian PU, Jakarta.

Amron mencontohkan, panjang garis pantai di Pulau Bali telah mengalami abrasi sekitar 91 kilometer atau 20,8 persen dari garis pantai pulau tersebut. Hal itu sangat disayangkan karena Indonesia memiliki garis pantai sekitar 95 kilometer. “Kerusakan garis pantai itu disebabkan oleh perubahan lingkungan dan abrasi pantai yang juga mengancam keberadaan lahan produktif dan pariwisata,” terangnya.

Sementara itu, Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) melalaui Direktur Pesisir dan Lautan Ditjen KP3K , Dr, Ir Subandono Diposaptono mengatakan penanganan Abrasi tersebut memang wilayah dirinya, ada dua faktor yang dibuat oleh KKP, yaitu pembangunan Struktur dan Nonstruktur, namun KKP hanya berada pada wilayah Nonstruktur, yaitu penanaman pohon mangrove dan trumbu buatan. “Ini masuk dalam mitigasi bencana dalam PP nomer 64 tahun 2010, disebutkan abrasi pantai. Dan kita juga sudah menangani di daerah Demak,” kata Subandono.

Dikaui oleh Subandono, ada sekitar 20 Provinsi dan ratusan lokasi yang sudah terkena abrasi, dan penanganannya pun terus dilakukan, namun KKP tidak bisa bekerja sendirian, untuk penanganan abrasi dengan cara pembuatan tembok perlu kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum. “Kami tidak bisa bekerja sendirian, tentunya penanganan abrasi dengan membuat tembok-tembok perlu bekerjasama dengan PU, kami hanya sebatas penanganan lunak,” ujarnya.

Penganan abrasi sendiri tentunya tidak sembarangan, seperti pembuatan tembok, perlu kajian secara komperhensif, karena masih kata Subandono jika pembangunan dilakukan disatu titik tanpa ada penagnagn yang serius maka bisa merubah tempat lain. “Jika tempat A ditangani tanpa melakukan kajian, maka bisa berakibat patal ke tempat lain. Harus dilihat dari arah mana gelombangnya, dan jika dibuat tembok apakah tidak akan merusak tempat lain, tentunya khan tidak boleh sembarangan,” pungkasnya.

By Abrasi the movie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s